Menjadi Pendengar, Penuntun, dan Sahabat: Kisah Guru BK Inspiratif di SMP Muhammadiyah 1 Kalasan

Kalasan, di setiap sekolah akan selalu ada sosok guru yang kehadirannya bukan hanya untuk mengajar saja, akan tetapi untuk mendengarkan, menenangkan, dan menjadi tempat pulang bagi siswa ketika mereka tidak mengetahui dirinya harus bercerita kepada siapa. Di SMP Muhammadiyah 1 Kalasan, sosok itu hadir dalam diri Ibu Tivani Kusuma Putri, S.Psi, guru Bimbingan dan Konseling (BK), yang terbilang masih baru belum genap satu tahun mengajar, namun sudah memberi warna baru dalam pendampingan siswa.

Meski masih terbilang baru, kehadirannya membawa semangat baru untuk membangun ekosistem sekolah yang lebih nyaman dan mendukung kesehatan mental khusunya bagi siswa. Dengan latar belakang pendidikan psikologi, Ibu Tivani datang dengan pandangan baru di era sekarang, bahwa sekolah bukan hanya tempat belajar angka dan teori, akan tetapi juga tempat tumbuhnya karakter, mental, serta sikap sosial siswa.

Awal Perjalanan: Dari Perhatian pada Kesehatan Mental ke Dunia BK

Ibu Tivani, saat menceritakan alasannya memilih menjadi guru BK, menggarisbawahi perubahan besar yang terjadi sejak masa pandemi. Menurutnya, setelah Covid-19, istilah-istilah psikologi seperti depresi, anxiety, healing, dan banyak istilah lain menjadi sangat akrab di telinga masyarakat, terutama remaja. Sayangnya, istilah-istilah ini sering disalahgunakan dan membuat banyak remaja melakukan self-diagnosis hanya berdasarkan konten media sosial.

“Karena latar belakang pendidikan saya psikologi, saya merasa guru BK adalah langkah awal untuk membantu generasi muda agar lebih peduli dengan kesehatan mentalnya,” ujarnya.

Ia melihat langsung bagaimana remaja khawatir berlebihan mengenai kondisi mentalnya hanya karena membaca sesuatu di internet. Ia ingin hadir untuk memberi pemahaman yang benar, bukan menakut-nakuti atau menghakimi.

Bagi Ibu Tivani, menjadi guru BK berarti menjadi orang yang benar-benar berada di sisi siswa, terutama ketika mereka kebingungan, cemas, atau bahkan tidak memahami diri sendiri. Di sinilah ia menemukan makna yang lebih dalam tentang profesinya.

Guru BK sebagai Ruang Aman: Tempat Berbagi Tanpa Takut Diadili

Salah satu hal yang paling ditekankan oleh Ibu Tivani adalah bahwa guru BK seharusnya menjadi ruang aman bagi siswa. Sebuah tempat di mana siswa dapat bercerita apa pun tanpa rasa takut, malu, atau khawatir akan disalahpahami.

“Hal yang menjadi fokus guru BK adalah perilaku dan kesehatan mental anak, bukan hanya kemampuan akademiknya,” jelasnya.

Ia percaya bahwa kesehatan mental yang baik merupakan fondasi penting untuk membantu siswa mencapai prestasi akademik dan membangun karakter yang kokoh. Oleh karena itu, setiap kali melakukan layanan konseling, ia selalu menjelaskan tentang asas kerahasiaan, yaitu aturan yang memastikan bahwa cerita siswa akan disimpan dan tidak dibagikan tanpa izin.

Dengan memahami bahwa cerita mereka aman, siswa jauh lebih mudah terbuka. Asas inilah yang membangun kepercayaan, dan tanpa kepercayaan, proses konseling mustahil berjalan dengan baik.

Momen Paling Berkesan: Belajar dari Ketegaran Siswa

Selama mengajar di sekolah, Ibu Tivani menemukan banyak pengalaman yang membuatnya semakin yakin bahwa profesi ini adalah panggilan hatinya. Salah satu pengalaman paling berkesan adalah ketika ia justru belajar dari ketegaran para siswa.

Ia bertemu beberapa siswa yang mampu menghadapi masalah besar di usia yang sangat muda. Masalah-masalah yang mungkin terasa berat bahkan bagi orang dewasa. Ketika melihat mereka berjuang dan tetap berusaha bangkit, ia menyadari bahwa siswa bukan hanya objek yang dibimbing, tetapi juga guru kehidupan yang mengajarkan ketabahan.

“Dari mereka, saya belajar bagaimana anak-anak bisa tegar menghadapi persoalan yang tidak kecil untuk usia mereka,” ungkapnya.

Pengalaman itu menjadikan pekerjaannya semakin berarti. Setiap hari selalu terasa sebagai kesempatan baru untuk memahami karakter siswa lebih dalam.

Tantangan Terbesar: Materi BK Dianggap Tidak Penting

Tidak dapat dipungkiri, salah satu tantangan yang dihadapi guru BK di banyak sekolah adalah anggapan bahwa materi BK tidak terlalu penting. Banyak siswa menganggap pelajaran BK tidak relevan karena tidak masuk ujian atau tidak memiliki nilai akademik.

“Tantangan terbesar saya adalah ketika beberapa siswa merasa materi BK itu tidak penting. Padahal justru materi BK ini mereka perlukan dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya.

Untuk mengatasi hal tersebut, ia berusaha menampilkan materi BK dengan cara yang lebih interaktif dan dekat dengan kehidupan siswa. Ia menjelaskan manfaat konkret materi BK, seperti bagaimana mengelola emosi, memahami diri sendiri, hingga cara membuat keputusan yang tepat.

Dengan pendekatan yang lebih kreatif, siswa mulai menyadari bahwa BK bukan hanya pelajaran tambahan, tetapi sesuatu yang sangat mereka butuhkan.

Kolaborasi dengan Guru Lain untuk Pembentukan Karakter

Salah satu kunci keberhasilan layanan BK di sekolah adalah kolaborasi. Menurut Ibu Tivani, pembentukan karakter siswa tidak bisa dilakukan sendiri. Guru BK, wali kelas, dan guru mata pelajaran harus saling bekerja sama agar perkembangan siswa dapat dipantau menyeluruh.

“Komunikasi terbuka adalah cara saya bekerja sama dengan guru lain. Dengan komunikasi itu, saya tahu perkembangan siswa dan bisa menentukan langkah yang tepat bersama,” ujarnya.

Pendekatan kolaboratif ini membuat penanganan permasalahan siswa lebih cepat dan lebih tepat. Ketika ada masalah yang muncul, ia selalu berdiskusi dengan guru terkait untuk mencari solusi terbaik.

Program Positif: Mengenal Diri dan Mengelola Emosi

Selama bertugas, Ibu Tivani telah menjalankan beberapa program layanan, mulai dari bimbingan klasikal hingga konseling individu.

Fokus utamanya dalam bimbingan adalah pengenalan diri dan pengelolaan emosi. Ia menyadari bahwa siswa SMP berada dalam fase perubahan emosional yang sangat cepat. Mereka kadang mudah tersinggung, mudah marah, sensitif, namun juga mudah merasa senang.

Tanpa pemahaman tentang emosinya, siswa bisa salah menyalurkan perasaan ke arah yang negatif. Karena itu, bimbingan pengelolaan emosi menjadi materi yang sangat penting.

Ibu Tivani sering menyampaikan konsep-konsep sederhana agar siswa mudah memahami diri mereka, seperti:
belajar jujur pada perasaan,
mengetahui tanda ketika emosi mulai muncul,
serta cara menenangkan diri sebelum mengambil keputusan.

Dengan pendekatan itu, siswa semakin terarah dan lebih bijaksana dalam menghadapi masalah.

Filosofi Tanpa Label: Tidak Ada “Anak Nakal”

Salah satu prinsip terkuat yang dipegang oleh Ibu Tivani adalah tidak terburu-buru memberi label anak nakal pada siswa.

Menurutnya, setiap perilaku buruk pasti memiliki penyebab. Mungkin karena masalah di rumah, tekanan pertemanan, rasa tidak dihargai, atau hal-hal yang tidak terlihat oleh guru.

“Tugas kita bukan menghakimi, tetapi mencari alasan di balik perilaku,” katanya.

Pendekatan tanpa penghakiman ini membuat siswa merasa diterima apa adanya. Mereka merasa aman untuk bercerita dan lebih mudah terbuka saat membutuhkan pertolongan.

Inspirasi bagi Ibu Tivani dalam mendidik berasal dari lingkungan terdekat para guru di SMP Muhammadiyah 1 Kalasan. Ia melihat bagaimana para guru lain tetap sabar, ikhlas, dan konsisten dalam mendidik siswa tanpa membeda-bedakannya.

Menjaga Empati di Tengah Banyak Karakter

Menghadapi berbagai karakter siswa setiap hari bukanlah hal mudah. Ada yang sensitif, percaya diri, pendiam, kritis, impulsif, dan sebagainya. Namun bagi Ibu Tivani, keragaman karakter tersebut adalah tantangan menarik yang membuat pekerjaan ini selalu hidup.

“Guru BK harus menyadari batasan terhadap hal-hal yang tidak bisa kita kontrol sepenuhnya,” tuturnya.

Kesadaran ini membuatnya tetap tenang dan tidak kehilangan semangat ketika menghadapi situasi sulit. Ia tetap berempati, tetapi juga menjaga keseimbangan emosinya sendiri.

Kesalahan Umum Siswa: Impulsif dan Minim Pertimbangan

Menurut pengamatannya, salah satu kesalahan umum yang sering dilakukan siswa dalam mengelola emosi adalah bersikap impulsif. Mereka cenderung mengikuti dorongan hati sesaat tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang.

Selain itu, kurangnya arahan dari orang dewasa membuat siswa kadang mengambil keputusan yang salah. Di sinilah guru BK hadir untuk memberi gambaran, bimbingan, dan arahan yang lebih matang.

Pesan untuk Siswa: Fokus pada Hal yang Bisa Dikendalikan

Untuk siswa yang sedang menghadapi masalah akademik, kebingungan memilih jurusan, atau kehilangan motivasi, pesan Ibu Tivani sederhana tetapi sangat dalam:

“Fokuslah pada hal-hal yang bisa kita kontrol, jangan habiskan energi mencemaskan hal yang di luar kendali. Dan berhentilah menganggap diri tidak berguna, karena tidak ada manusia yang diciptakan sia-sia.”

Ia juga berpesan agar siswa berusaha jujur pada perasaan sendiri. Kunci untuk memahami diri adalah keberanian untuk mengakui apa yang sedang dirasakan.

Harapan dan Cita-Cita ke Depan

Ke depan, Ibu Tivani berharap seluruh siswa menjadi pribadi yang semakin sadar akan pentingnya kesehatan mental dan pembentukan karakter. Dua hal ini adalah fondasi utama yang akan membentuk generasi masa depan yang berkualitas.

Jika diberi kesempatan mengembangkan program baru, ia berharap setiap sekolah memiliki Program Pendidikan Karakter yang wajib diikuti semua siswa. Program ini akan menanamkan nilai-nilai penting seperti tanggung jawab, empati, sopan santun, kejujuran, dan kepedulian.

Nilai-nilai ini bukan hanya membentuk siswa menjadi pribadi yang baik, tetapi juga bermanfaat untuk menata masa depan mereka.

Pesan untuk Sesama Guru: Tetaplah Mendampingi dengan Hati

Ketika ditanya pesan untuk guru-guru lain, jawabannya penuh penghargaan.

“Guru adalah profesi yang sangat mulia. Saya berharap bapak ibu guru tidak kehilangan semangat dalam mendampingi siswa.”

Baginya, setiap guru berperan besar dalam menentukan seperti apa generasi bangsa di masa depan. Karena itu, ia berpesan agar para guru selalu menjaga hati, keikhlasan, dan semangat.

Setiap Guru adalah Guru Inspiratif

Di akhir wawancara, ketika ditanya apa arti “guru inspiratif”, ia menjawab dengan sangat rendah hati:

“Setiap guru adalah guru inspiratif. Setiap guru punya ciri khasnya masing-masing dalam mendidik. Maka setiap guru pasti memberi inspirasi, meskipun hanya untuk lingkup kecil sekalipun.”

Jawaban itu mencerminkan karakter seorang guru BK yang bekerja bukan untuk dilihat, tetapi untuk dirasakan kebaikannya.

Hadirnya Ibu Tivani menjadi bukti bahwa seorang guru muda pun dapat membawa perubahan besar bagi sekolah. Dengan pendekatan yang lembut, penuh empati, dan berpegang pada prinsip tanpa menghakimi, ia telah menjadi ruang aman bagi banyak siswa yang membutuhkan pendampingan.

 

Penulis: Pena MUSAKA