Guru Inspirasi: Kiprah Guru PJOK dalam Membangun Karakter Siswa

Kalasan, di lingkungan sekolah, peran seorang guru tidak hanya sebatas menyampaikan tentang  materi pelajaran. Lebih dari itu, guru adalah figur yang membimbing, mengarahkan, dan membentuk karakter peserta didik melalui keteladanan dan interaksi sehari-hari. Hal ini terasa kuat di mata pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK), di mana proses belajar tidak hanya terjadi melalui teori, tetapi melalui kebiasaan, kedisiplinan, dan semangat berlatih. Salah satu sosok yang hadir dengan dedikasi semacam itu adalah Pak Wahyu Agrianto, yang akrab disapa Pak Wahyu, merupakan seorang guru olahraga yang telah mengabdikan dirinya di SMP Muhammadiyah 1 Kalasan.

Meskipun masa pengabdiannya bisa dikatakan tidak lama, karakter dan komitmennya dalam mengajar telah membuatnya dikenal luas oleh siswa dan guru-guru lain. Pembawaannya yang hangat, tutur kata yang ramah, serta semangat dalam menggerakkan budaya hidup sehat membuat dirinya menjadi salah satu guru yang mudah didekati dan dijadikan tempat bercerita oleh para siswa. Dengan minat khusus pada olahraga futsal dan sepak bola, Pak Wahyu tidak hanya mengajarkan teknik, tetapi juga filosofi penting melalui setiap gerak dan keringat yang dikeluarkan siswa di lapangan.

Mengajar dengan Hobi: Menemukan Ruang untuk Menginspirasi

Saat ditanya mengenai awal mula ketertarikannya menjadi guru olahraga, Pak Wahyu memberikan jawaban yang sederhana namun penuh makna: Mencari rezeki sambil menyalurkan hobi melalui olahraga setiap saat.

Baginya, menjadi guru olahraga bukanlah sekadar profesi, melainkan kesempatan untuk terus bergerak, berkegiatan, dan melakukan hal-hal yang ia sukai. Dari kecil, dunia olahraga telah menjadi bagian dari kehidupannya. Ketertarikan itu ia bawa hingga dewasa, dan kini ia menjalani harinya dengan cara yang membuatnya merasa bermanfaat sekaligus bahagia.

Menurut Pak Wahyu, olahraga memiliki peran penting dalam kehidupan siswa. “Olahraga adalah energi positif yang bisa mengembalikan semangat siswa sebelum mereka menjalani berbagai aktivitas di kesehariannya,” jelasnya. Banyak siswa yang ia lihat mampu berubah mood nya hanya dengan melakukan aktivitas fisik ringan dari yang mulanya terlihat kurang bersemangat, menjadi lebih aktif dan ceria setelah berolahraga.

Di era digital saat ini, di mana anak-anak lebih sering terpaku pada layar gawai, kegiatan olahraga memiliki fungsi yang semakin vital. Dengan berolahraga, anak-anak diajak kembali pada aktivitas fisik yang menyehatkan tubuh dan pikiran.

Momen Berkesan: Dari Latihan Terbatas hingga Medali Daerah

Dalam pengabdiannya, ada satu pengalaman yang tak akan dilupakan oleh Pak Wahyu ketika siswi binaannya berhasil meraih medali perunggu lomba senam irama tingkat daerah pada bulan November. Pencapaian itu terasa sangat membanggakan, terutama karena proses latihan dilakukan dalam waktu yang terbatas.

“Dengan latihan yang terbatas, hasil ini sungguh membanggakan,” tuturnya. Ia melihat bagaimana siswinya bekerja keras, konsisten, dan tidak mudah menyerah meski jadwal latihan tidak banyak. Kemenangan ini bukan hanya milik siswinya, tetapi juga mencerminkan keberhasilan kerja sama, kesabaran, serta ketekunan seorang pelatih yang selalu percaya pada potensi anak didiknya.

Bagi Pak Wahyu, prestasi semacam ini adalah bukti nyata bahwa kerja keras tidak pernah sia-sia. Bahkan ketika waktu, fasilitas, atau kondisi lain tidak ideal, semangat dan komitmen mampu menjadi modal utama untuk mencapai hasil terbaik.

Tantangan Sehari-Hari: Membangun Disiplin di Era Serba Praktis

Tidak dapat dipungkiri bahwa menjadi guru olahraga memiliki tantangannya sendiri. Salah satu masalah yang sering ditemui Pak Wahyu adalah kurangnya kedisiplinan siswa, terutama dalam hal membawa perlengkapan olahraga. “Terkadang siswa masih sering lupa membawa seragam olahraga. Karena tidak membawa seragam, mereka jadi kurang semangat berolahraga,” jelasnya.

Masalah ini terkesan sederhana, tetapi sangat mempengaruhi proses belajar. Membawa seragam adalah tanggung jawab yang harus dipikul siswa, dan ketika hal kecil ini terabaikan, kegiatan olahraga di kelas menjadi tidak optimal. Namun, alih-alih memarahi, Pak Wahyu lebih memilih untuk memberikan pemahaman dan motivasi, menjelaskan manfaat olahraga, dan mengajak siswa melihat olahraga sebagai kebutuhan, bukan sekadar tugas sekolah.

Setiap kali ada siswa yang sedang tidak bersemangat atau merasa gagal dalam latihan maupun lomba, Pak Wahyu tidak pernah bosan menegaskan satu prinsip yang ia pegang teguh: “Usaha tidak akan mengkhianati hasil.” Menurutnya, kegagalan adalah bagian alami dari proses belajar. Yang terpenting bukan seberapa banyak seseorang gagal, tetapi seberapa sering ia bangkit dan tetap berusaha.

Filosofi Mengajar: Disiplin, Tanggung Jawab, dan Kerja Keras

Dalam menjalankan tugas sebagai guru, Pak Wahyu selalu menanamkan tiga nilai utama kepada siswa: Disiplin, tanggung jawab, dan kerja keras.

Ketiganya adalah fondasi penting dalam pendidikan karakter. Ia percaya bahwa nilai-nilai tersebut dapat dibangun secara efektif melalui kegiatan olahraga karena olahraga menuntut konsistensi, pengulangan, dan komitmen.

“Olahraga membutuhkan kedisiplinan yang tinggi. Kalau ingin mendapatkan apa yang diinginkan, harus siap berusaha dan latihan,” ujarnya.

Ia ingin siswa memahami bahwa tujuan tidak datang dengan sendirinya. Perlu ada usaha, waktu, dan pengorbanan untuk mencapainya. Filosofi ini tidak hanya berlaku saat siswa berada di lapangan, tetapi juga dalam kehidupan mereka di luar sekolah.

Sosok yang paling menginspirasi Pak Wahyu dalam dunia pendidikan adalah guru PJOK-nya saat masih SMA. Dari guru itulah ia belajar bagaimana olahraga dapat menjadi ruang pembentukan karakter sekaligus tempat untuk bertumbuh menjadi pribadi yang lebih percaya diri.

Tidak Sekadar Mengajar: Menggerakkan Budaya Hidup Sehat

Peran Pak Wahyu di sekolah tidak hanya terlihat di kelas, tetapi juga dalam berbagai kegiatan ekstrakurikuler. Saat ini, ia dipercaya membina ekstrakurikuler futsal, salah satu kegiatan favorit siswa. Melalui eskul ini, ia mengajarkan kerja sama, sportivitas, dan sikap pantang menyerah.

Kerja sama antar guru menjadi hal penting yang ia tekankan. Menurutnya, menumbuhkan budaya hidup sehat tidak hanya tugas guru olahraga, tetapi juga semua pihak di sekolah. Ia aktif mengajak guru-guru lain untuk terlibat dalam kegiatan olahraga ringan bersama, agar pesan tentang pentingnya hidup sehat dapat tersampaikan lebih luas.

Selain itu, ia juga terus berupaya mengembangkan sarana dan prasarana olahraga di sekolah. Bagi Pak Wahyu, lingkungan yang nyaman dan fasilitas yang memadai akan membuat siswa lebih bersemangat untuk beraktivitas.

Di Era Gadget, Jangan Berhenti Bergerak

Ketika ditanya apa pesannya bagi siswa yang tidak begitu menyukai pelajaran olahraga, jawabannya penuh pengertian, “Meskipun tidak menyukai pelajaran olahraga, setidaknya jangan pernah berhenti untuk berolahraga.”

Ia menyadari bahwa tidak semua siswa memiliki minat yang sama terhadap olahraga. Namun, aktivitas fisik tetap penting untuk kesehatan tubuh maupun mental. Oleh karena itu, ia selalu berusaha menghadirkan variasi pembelajaran yang menyenangkan dan sesuai dengan kebutuhan siswa zaman sekarang.

Era digital membawa tantangan tersendiri. Anak-anak semakin akrab dengan gadget dan lebih sering berada dalam posisi duduk berjam-jam. Melihat hal tersebut, Pak Wahyu terus mengingatkan pentingnya bergerak. Menurutnya, olahraga tidak harus selalu berat. Aktivitas sederhana seperti stretching, jalan cepat, atau permainan ringan sudah cukup untuk menjaga tubuh tetap aktif.

Makna Kemenangan dan Kebanggaan Seorang Guru

Bagi Pak Wahyu, definisi kemenangan bukan hanya piala atau penghargaan. “Kemenangan adalah sesuatu yang kita dapatkan dari usaha dan kerja keras, tanpa memperdulikan kapan hasil itu datang,” jelasnya.

Kemenangan adalah proses. Bahkan ketika hasil belum terlihat, semangat untuk terus berusaha adalah kemenangan tersendiri.

Tidak ada kebahagiaan yang lebih besar bagi seorang guru selain melihat siswanya berhasil. Pak Wahyu mengaku sangat bangga ketika melihat siswa yang dulu ia bimbing kini tumbuh menjadi pribadi yang lebih percaya diri atau bahkan menjadi atlet yang berprestasi. “Apa yang kita usahakan dan berikan dapat bermanfaat bagi kehidupan mereka,” tambahnya.

Harapan untuk Masa Depan: Munculnya Generasi Atlet Baru

Melihat perkembangan siswa-siswi sekarang, Pak Wahyu memiliki harapan besar agar sekolah dapat melahirkan lebih banyak atlet muda berbakat. Ia ingin melihat siswa berani mencoba cabang olahraga yang mereka sukai dan berani mengikuti kompetisi.

Ke depan, ia ingin membuat program yang mendukung perkembangan olahraga di sekolah, salah satunya dengan menyediakan sarana dan prasarana olahraga yang lebih lengkap dan nyaman. Dengan fasilitas yang memadai, siswa dapat berlatih dengan lebih optimal dan menikmati proses belajar.

Sebelum mengakhiri wawancara, ia menyampaikan pesan yang begitu kuat bagi seluruh siswa,
“Jangan pernah merasa gagal. Terus berjuang dan jangan pernah merasa cukup dengan apa yang sudah kalian dapatkan. Never give up and come back stronger.”

Dengan dedikasi yang tulus, cara mengajar yang hangat, dan filosofi hidup yang membangun, sosok Pak Wahyu Agrianto membawa warna positif dalam perjalanan pendidikan di SMP Muhammadiyah 1 Kalasan. Ia bukan hanya mengajar gerakan, tetapi menanamkan nilai kehidupan. Ia bukan hanya melatih fisik, tetapi menguatkan mental.

Semoga melalui sosok inspiratif ini, siswa-siswi SMP semakin terdorong untuk mencintai olahraga, hidup sehat, dan terus berprestasi baik di lapangan, maupun dalam perjalanan hidup mereka selanjutnya.

Penulis: Pena MUSAKA