Belajar memahami diri sendiri

Rani selalu merasa hidupnya bergerak terlalu cepat. Setiap hari ia bangun pagi, berangkat sekolah, mengerjakan tugas, lalu tidur. Semuanya terasa seperti rutinitas yang ia lakukan tanpa berpikir. Namun akhir-akhir ini, Rani merasa makin sering kesal, sedih, dan lelah tanpa tahu alasannya.

Suatu hari, setelah pulang sekolah, Rani memilih tidak langsung masuk rumah. Ia duduk di teras sambil memandangi langit sore yang berwarna oranye keemasan. Angin perlahan menyapu wajahnya. Di momen itu, ia merasa untuk pertama kalinya ia bisa bernapas dengan benar.

“Aku kenapa, ya?” gumamnya.
Pertanyaan itu sederhana, tapi terasa berat.

Ibunya keluar membawa dua gelas teh hangat. Ia duduk di samping Rani tanpa banyak bicara.
“Kamu kelihatan capek,” kata ibunya pelan.

Rani ingin menjawab “nggak apa-apa” seperti biasanya, tapi kata itu rasanya menekan dada. Ia menelan ludah dan berkata jujur, “Aku… nggak tahu, Bu. Aku mudah marah, mudah sedih, tapi aku nggak ngerti kenapa.”

Ibunya tersenyum lembut. “Kadang kita marah bukan karena orang lain. Kadang kita sedih bukan karena keadaan. Kita hanya belum mendengarkan diri sendiri.”

Kata-kata itu membuat Rani diam lama. Ia tidak pernah benar-benar berhenti untuk mendengarkan hatinya. Ia selalu sibuk mengikuti apa yang orang lain inginkan: nilai bagus, sikap baik, selalu ceria. Tapi ia tidak pernah bertanya, “Apa yang sebenarnya aku butuhkan?”

Malam itu, Rani membuka buku catatannya. Alih-alih menulis tugas, ia menulis:

Hari ini aku bingung dengan diriku sendiri.
Mungkin aku butuh waktu untuk mengerti apa yang kurasakan.

Esok paginya di sekolah, Rani mencoba memperhatikan perasaannya.
Saat temannya bercanda terlalu keras, ia merasa kesal—tapi kali ini ia tahu itu bukan karena temannya, melainkan karena ia belum sarapan dan sedang lapar.
Ketika melihat nilai ulangannya turun, ia hampir menangis—tapi ia sadar bukan nilai itu yang menyakitinya, melainkan rasa takut mengecewakan orang tua.

Perlahan, Rani mulai mengenali pola: perasaan-perasaan itu sebenarnya bukan musuh. Mereka hanya pesan kecil dari dalam diri.

Malam berikutnya, ia menulis lagi:
Hari ini aku takut. Tapi aku tahu kenapa.
Hari ini aku sedih. Tapi aku tidak menyalahkan siapa pun.
Aku sedang belajar. Pelan-pelan saja.

Beberapa minggu berlalu, dan Rani tidak berubah menjadi orang baru. Ia masih bisa marah, masih bisa lelah, masih bisa sedih. Bedanya, kini ia tahu alasan di baliknya. Dan mengetahui alasan itu membuat semuanya terasa lebih ringan.

Suatu sore, Rani kembali duduk di teras, menatap langit sore seperti pertama kali ia mulai bertanya pada dirinya.
“Kamu sudah lebih baik?” tanya ibunya.

Rani tersenyum kecil. “Belum sepenuhnya. Tapi aku lebih mengerti diriku sekarang.”

Ibunya mengangguk. “Itulah langkah pertama. Rumah yang paling sulit ditemukan adalah rumah di dalam diri.”

Rani menatap langit yang berubah jingga. Untuk pertama kalinya, ia merasa pulang—bukan ke tempat tinggal, tapi kepada dirinya sendiri.